Berkawan dengan Sariawan


          Hal yang paling menjengkelkan dalam hidup selain mendapat undangan nikah dari mantan yang masih disayang adalah sariawan disaat hidangan makanan lagi enak-enaknya. Akan ada kontradiksi antara mata yang memandang dengan mulut yang perasa. Makanan yang enak dipandang belum tentu enak dikunyah. Makan saat sariawan?. Seperti melawan takdir Illahi, makan sakit gak makan lapar, mungkin inilah ketetapan Tuhan. Segala polemik tentang ini pada akhirnya hanya akan meruncingkan dua pilihan sulit: hanya curi-curi pandang dengan tatapan centil pada makanan atau mengunyah makanan dengan rasa sakit yang sebelumnya telah kita ketahui. Memilih salah satu dari dua pilihan sulit ini, bagaikan memilih siapa yang lebih lovely antara Dian Sastrowardoyo atau Bianca Liza. Keduanya sama-sama Basri’s Sweetheart.

6408_1020575533519_1799111133_41057_3727912_n

          Sariawan, si kecil nyentrik yang menuntut perhatian lebih. Kadang, sariawan bisa lebih manja dari balita berumur 2 tahun yang bakal distop ASI oleh ibunya. Sariawan adalah ‘tamu’ yang tidak diharapkan kedatangannya. Sekalipun bertamu sangat dianjurkan agama, memutuskan tali silaturahmi mungkin adalah solusi terbaik dari semua pemimpin agama. Sariawan, orang bilang akibat kekurangan vitamin C. Vitamin C?. C?. Ciuman?. Ah sudahlah. Tidak etis jika dilanjutkan.

Iya, saya sariawan.

          Ada perbedaan mencolok antara Basri-yang-sariawan dengan Basri-yang-mulutnya-sehat-wal-afiat. Anda akan menemukan seonggok cowok yang tiba-tiba nyanyi hip-hop dengan tempo yang selalu tertinggal pada Basri-yang-mulutnya-sehat-wal-afiat. Bagaimana dengan Basri-yang-sariawan?. Tidak ada racauan dari mulut saya, saya bahkan bisa lebih pendiam dari seorang kutu buku yang sedang khusyu membaca tanpa mau diganggu dan terganggu.

          Sariawan, 1 kata yang bisa banget bikin saya merenung. Iya, ini tentang rasa syukur. Saya tahu rasanya makan enak dengan keadaan mulut masih sanggup mendiagnosa aneka ragam rasa. Tapi ketika saya sariawan?. Saya bahkan menganjurkan MUI segera memberi fatwa bahwa semua makanan harus dijus atau dilembutkan. Sembuh dari sariawan adalah sebenar-benarnya rasa syukur. Nikmat makan makanan enak dengan lancar mana lagi yang bakal saya dustakan?.

          Rasa syukur, semua hal yang sepatutnya saya hargai, saya pelihara dan saya jaga dalam hidup. Bukankah kelimpahan dimulai dari rasa bersyukur?. Bukankah Tuhan menjamin orang-orang yang pandai bersyukur?. Saya jomblo dan saya bersyukur. Saya jomblo yang berusaha tidak takabur. Siapa tahu dengan bersyukurnya saya sebagai jomblo, suatu saat nanti Tuhan mempermudahkan saya mempunyai pacar lebih dari 1?. Hahaha tidak, saya naif jika mengharapkan itu terjadi. Saya tidak mau menyalahi kodrat saya sebagai lelaki yang hanya menjaga 1 hati wanita saja. Basri playboy?. Itu mistik. KPK pasti mencatatnya sebagai tindakan kriminal.

          Rasa syukur, bagaimana mungkin saya mendapatkan hal-hal yang lebih besar, jika saya tidak bersyukur atas apa yang telah saya miliki sekarang ini?. Toh semuanya cuma bisa dimulai dari apa yang saya telah miliki. Bersyukurlah dari hal yang kecil. Karna sesungguhnya, yang besar pun berawal dari yang kecil, begitu kata mendiang Mak Erot. Bersyukurlah, di manapun dan kapanpun. Sekian.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: