Ada Apanya?. Apa Adanya!


“Pacar gue selingkuh, Bas. Lo kan tau gue sayang banget sama dia. Pengorbanan gue selama ini udah banyak. Gue rela gak nonton sinetron yang gue suka demi bisa BBM/SMS-an sama dia. Tapi apa?. APA?. Ternyata selama ini ada intrik antara gue, dia dengan orang ketiga. Gue sedih Bas. Gue galau. Hiks..Hiks”.

 

    Itu adalah sebagian kutipan dari curhatan temen yang eksistensi namanya lebih baik saya rahasiakan. Hari itu, dia merasa dirinya korban dan seluruh dunia berkonspirasi menentang dirinya. Dia yang saya kenal dengan hakul yakin sebagi sosok yang tegar, tiba-tiba terlihat rapuh akibat dari perselingkuhan yang tidak terlihat meyakinkan. Hari itu dia terlihat seperti anak SD di hari terakhir sekolah pada jam pelajaran terakhir sebelum libur panjang. Pikirannya sudah melayang-layang jauh di tempat liburan. “Benarkah dia yang selama ini gue sayang?”. Iman dia terhadap pacarnya mulai terganggu.

 

    Memang benar, beberapa hal dalam hidup ini gak pernah berubah, bulan mengelilingi bumi, matahari terbit di ufuk timur, rumput warnanya hijau, darah warnanya merah, garam rasanya asin, bumi mengelilingi matahari, dan setiap orang punya kesempatan buat selingkuh. Semua orang punya kesempatan buat selingkuh?. Entah apa motifnya, mungkin aja karena kita memang bisa. Tapi saya gak bilang kalau selingkuh adalah hak yang sudah dihibahkan Tuhan pada diri kita sejak lahir lho ya.

 

    Semua orang yang pernah merasakan indahnya cinta, pasti pernah merasakan paitnya cinta. Termasuk saya, saya tidak naif. Saya tau indahnya dicintai dan mencintai. Dicintai dan mencintai?. Oh my, itu adalah dua komponen hakiki yang sangat tokcer bila saling bertemu dan disatukan. Tapi ah, saya sebenarnya males ngebahas cinta-cintaan. Untuk sekarang ini, saya mendadak lupa gimana rasanya dicintai dan mencintai. Saya lebay?. No, saya hanya berusaha jujur pada diri saya sendiri. Jujur pada diri sendiri adalah kunci keberhasilan, demikian kata Mario Teguh dan para motivator lain yang ingin menjadi Mario Teguh. Saya percaya, jujur pada diri sendiri dan sadar bahwa menerima diri sendiri serta bersikap apa adanya memang awal untuk bangkit.

 

    Bersikap apa adanya?. Tanpa sadar banyak orang hidup dalam tekanan. Bukan beban terlalu berat, atau kekuatan tak memadai. Namun, karena tidak mau berterus terang. Hidup dalam kepura-puraan tidak memberikan kenyamanan. Bersikaplah apa adanya. Bila anda kesulitan, jangan tolak bantuan. Sikap terus terang membuka jalan bagi penerimaan orang lain. Dan penerimaan yang tulus hanya terwujud dalam kejujuran dan sikap terus terang. Ah, kadang saya seperti motivator lain yang ingin menjadi Mario Teguh.

 

    Kepura-puraan itu buat saya kayak bunga mawar plastik dengan kelopak dan warna sempurna, tapi gak wangi. Iya sih, kakek-kakek puber kedua juga paham mawar asli gak seindah tiruannya dan segera layu, toh kita tetap aja menyukainya. Kenapa?. Karena ada detak kehidupan alam di sana. Hidup dalam kejujuran adalah hidup alami yang sejati. Catet!

 
Btw, temen saya yang galau unlimited itu sekarang kehidupannya udah berjalan seperti biasa dan semuanya kembali pada fitrahnya.

Iklan

One response to this post.

  1. Posted by ekagustianidhani on 20 Mei 2013 at 08:35

    cinta selalu penuh dengan warna

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: