Kenapa Harus Teriak?


        Gue bukan termasuk golongan orang-orang yang suka teriak kalo lagi marah. Gak tau kenapa, gue lebih suka diem. Pernah sekali waktu gue teriak, itu juga cuma reaksi kaget karna ada tikus yang lewat gak permisi di kaki gue. Hmm.. Teriak?. Kenapa mesti teriak kalo lagi marah?. Kenapa?. Pola pikir orang yang gak suka teriak kayak gue gini pasti gak jauh dari pertanyaan: Kenapa kalo orang yang lagi marah, doi ngomong dengan suara kuat dan teriak?.

 

        Gue paling gak ngerti sama orang-orang yang suka teriak kalo lagi marah. Pernah gue nyari jawaban sendiri, dan jawaban sotoy gue adalah: Mungkin saat itu mereka hilang kesabaran, lalu mereka teriak. Tapi, kalo asumsinya hilang kesabaran, kenapa mesti teriak?. Toh lawan bicaranya justru ada disamping dia.

 

        Dari hal sepele kayak gini, kadang bikin gue kepikiran. Gue jadi sering ngelamun, sering bengong. Tapi aneh, gue malah dikira lagi galau. Galau lagi mikirin cewek katanya. Halah, klasik!

 

        Pernah sekali waktu gue mikir, mungkin ketika ada dua orang sedang dalam situasi kemarahan, jarak antara dua hati mereka jadi jauh walau secara fisik mereka dekat. Karna itu, untuk mencapai jarak yang demikian, mereka harus teriak. Iya, ini jawaban sotoy gue versi revisi.

 

        Tapi kok aneh, semakin keras mereka teriak, mereka malah makin marah. Kalo makin marah otomatis jarak hati yang ada diantara keduanya jadi lebih jauh lagi. Mau gak mau mereka teriak lebih keras lagi. Iya, teriak-marah-teriak-marah, gitu-gitu aja terus sampai kiamat.

 

        Gue jadi kepikiran lagi, jadi sering ngelamun, jadi sering bengong. Iya, lagi-lagi gue dikira galau. Galau mikirin cewek katanya. Halah, klasik (lagi)!

 

        Mikirin cewek?. Jatuh cinta?. Tunggu dulu, tunggu dulu. Gue coba ngebandingin apa yang terjadi ketika ada dua orang saling jatuh cinta sama dua orang yang lagi marah. Dua orang yang jatuh cinta?. Hmmm.. Kalo gue perhatiin dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, suara yang keluar dari mulut dua orang yang sedang dimabuk cinta tuh halus, lembut dah kecil. Asik!. Iya, saking halusnya, cuma mereka berdua doang yang bisa ngedengerin suara mereka. Yang lain tiba-tiba tuli, semacam budeg dadakan.

 

        Kenapa dua orang yang jatuh cinta bisa kayak gitu?. Lagi-lagi tingkat ke-sotoy-an gue berperan disini. Mungkin karena hati mereka begitu dekat, hati mereka gak ada jarak dan spasi. Sampai gak ada sepatah kata yang perlu diucapin. Asik!. Iya, sebuah pandangan mata aja udah cukup ngebuat mereka paham apa yang ingin mereka sampaikan. Dari mata turun ke hati, dari hati tak mau pergi. Syalalalalala.

 

        Sebagai salah satu orang yang anti-teriak kalo lagi marah, pesan gue kalo ada yang lagi marah, jangan ada jarak di hati kalian. Jangan ngeluarin kata-kata yang berpotensi menimbulkan jarak diantara kalian. Mungkin disaat kayak gitu, gak ngeluarin kata-kata adalah sebaik-baiknya cara orang yang lagi marah.

 

        Oiya satu lagi, kalo ada tikus yang pernah jadi korban teriakan gue lagi baca blog gue, gue minta maaf. Salah lo juga sih lewat di kaki gue gak permisi. Dari dulu kita emang gak cocok, kus. Emang iye, emang begitu!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: